TUGAS
BIOKIMI II
METABOLISME
KARBOHIDRAT

Oleh:
Nama : Armando Pagawak
Nim : 201339018
Jurusan : Kimia Sains
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU
PENGETAHUAN ALAM (FMIPA)
JURUSAN KIMIA
UNIVERSITAS PAPUA
MANOKWARI
2016
METABOLISME KARBOHIDRAT
Metabolisme
Karbohidrat
Berbagai
macam karbohidrat, antara lain monosakarida, disakarida, oligosakarida serta
polisakarida.Karbohidrat siap dikatabolisir menjadi energi jika berbentuk
monosakarida.Energi yang dihasilkan berupaAdenosin trifosfat (ATP).
Glukosa
merupakan karbohidrat terpenting. Dalam bentuk glukosalah massa karbohidrat
makanan diserap
ke dalam aliran darah, atau ke dalam bentuk glukosalah karbohidrat dikonversi
di dalam hati, serta dari glukosalah semua bentuk karbohidrat lain dalam tubuh dapat
dibentuk. Glukosa merupakan bahan bakar metabolik utama bagi jaringan mamalia (kecuali
hewan pemamah biak) dan bahan bakar universal bagi janin. Unsur ini diubah menjadi
karbohidrat lain dengan fungsi sangat spesifik, misalnya glikogen untuk
simpanan, ribose dalam bentuk asam nukleat, galaktosa dalam laktosa susu, dalam
senyawa lipid kompleks tertentu dan dalam bentuk gabungan dengan protein, yaitu
glikoprotein serta proteoglikan.
Peristiwa yang
dialami unsur-unsur makanan setelah dicerna dan diserap adalah METABOLISME INTERMEDIAT.Jadi
metabolisme intermediat mencakup suatu bidang luas yang berupaya memahami bukan
saja lintasan metabolik yang dialami oleh masing-masing molekul, tetapi juga
interelasi dan mekanisme yang mengatur arus metabolit melewati lintasan
tersebut.
Lintasan
metabolisme dapat digolongkan menjadi 3 kategori:
1.
Lintasan
anabolik (penyatuan/pembentukan)
Ini
merupakan lintasan yang digunakan pada sintesis senyawa pembentuk struktur dan
mesin tubuh.
Salah satu contoh dari kategori ini adalah sintesis protein.
2.
Lintasan
katabolik (pemecahan)
Lintasan
ini meliputi berbagai proses oksidasi yang melepaskan energi bebas, biasanyadalam
bentuk fosfat energi tinggi atau unsur ekuivalen pereduksi, seperti rantai
respirasidan fosforilasi oksidatif.
3. . Lintasan amfibolik (persimpangan)
Lintasan
ini memiliki lebih dari satu fungsi dan terdapat pada persimpangan metabolisme
sehingga bekerja sebagai penghubung antara lintasan anabolik dan lintasan
katabolik.Contoh dari lintasan ini adalah siklus asam sitrat.

Terdapat
beberapa jalur metabolisme karbohidrat baik yang tergolong sebagai
katabolismemaupun anabolisme, yaitu glikolisis, oksidasi piruvat, siklus asam
sitrat, glikogenesis, glikogenolisis serta glukoneogenesis.Secara ringkas,
jalur-jalur metabolisme karbohidrat dijelaskan sebagai berikut:
1.
Glukosa sebagai bahan bakar utama akan
mengalami glikolisis (dipecah) menjadi 2
piruvat jika tersedia oksigen. Dalam tahap ini
dihasilkan energi berupa ATP.
2.
Selanjutnya masing-masing piruvat
dioksidasi menjadi asetil KoA. Dalam tahap inidihasilkan energi berupa ATP.
3.
Asetil KoA akan masuk ke jalur
persimpangan yaitu siklus asam sitrat. Dalam tahap inidihasilkan energi berupa
ATP.
4.
Jika sumber glukosa berlebihan, melebihi
kebutuhan energi kita maka glukosa tidak
dipecah,
melainkan akan dirangkai menjadi polimer glukosa (disebut glikogen)
Glikogen ini disimpan di hati dan otot
sebagai cadangan energi jangka pendek. Jika kapasitaspenyimpanan glikogen sudah
penuh, maka karbohidrat harus dikonversi menjadi jaringan lipid sebagai cadangan energi
jangka panjang.
5.
Jika terjadi kekurangan glukosa dari
diet sebagai sumber energi, maka glikogen
dipecahmenjadi glukosa. Selanjutnya glukosa mengalami glikolisis,
diikuti dengan oksidasipiruvat sampai dengan siklus asam sitrat.
6.
Jika glukosa dari diet tak tersedia dan
cadangan glikogenpun juga habis, maka sumber
energi non
karbohidrat yaitu lipid dan protein harus digunakan. Jalur ini dinamakan
glukoneogenesis (pembentukan
glukosa baru) karena dianggap lipid dan protein harusdiubah menjadi glukosa
baru yang selanjutnya mengalami katabolisme untuk
memperoleh
energi.
Beberapa
jalur metabolisme karbohidrat

Glikolisis
Glikolisis
berlangsung di dalam sitosol semua sel. Lintasan katabolisme ini adalah proses
pemecahan
glukosa menjadi:
1.
asam piruvat, pada suasana aerob (tersedia oksigen)
2.
asam laktat, pada suasana anaerob (tidak tersedia oksigen)
Glikolisis
merupakan jalur utama metabolisme glukosa agar terbentuk asam piruvat, dan
selanjutnya
asetil-KoA untuk dioksidasi dalam siklus asam sitrat (Siklus Kreb’s). Selain
itu
glikolisis juga
menjadi lintasan utama metabolisme fruktosa dan galaktosa.
Keseluruhan
persamaan reaksi untuk glikolisis yang menghasilkan laktat adalah:
Lintasan detail glikolisis
---
Secara rinci,
tahap-tahap dalam lintasan glikolisis adalah sebagai berikut (pada setiap
tahap, lihat dan
hubungkan dengan Gambar Lintasan detail metabolisme karbohidrat):
1. Glukosa masuk
lintasan glikolisis melalui fosforilasi menjadi glukosa-6 fosfat denganbereaksi
sebagai kompleks Mg-ATP. Terminal fosfat berenergi tinggi pada ATPdikatalisir
oleh enzim heksokinase atau glukokinase pada sel parenkim hati
dan seldigunakan, sehingga hasilnya adalah ADP. (-1P)
Reaksi
ini disertai kehilangan energi bebas dalam jumlah besar berupa kalor, sehingga
dalam kondisi fisiologis dianggap irrevesibel. Heksokinase dihambat secara
alosterik Pulau Langerhans pancreas.
Proses ini memerlukan ATP sebagai donor fosfat. ATPoleh produk reaksi
glukosa 6-fosfat.
2. Glukosa
6-fosfat diubah
menjadi Fruktosa 6-fosfat dengan bantuanenzimfosfoheksosa isomerase dalam
suatu reaksi isomerasi aldosa-ketosa. Enzim ini hanyabekerja pada anomer
µ-glukosa 6-fosfat.
µ-D-glukosa 6-fosfat « µ-D-fruktosa
6-fosfat
3. Fruktosa
6-fosfat diubah
menjadi Fruktosa 1,6-bifosfat dengan bantuan enzim
fosfofruktokinase.
Fosfofruktokinase merupakan enzim yang bersifat alosterik
sekaligus bisa
diinduksi, sehingga berperan penting dalam laju glikolisis.
Dalamkondisi fisiologis tahap ini bisa dianggap
irreversible. Reaksi ini memerlukan ATPsebagai donor fosfat, sehingga
hasilnya adalah ADP.(-1P)
µ-D-fruktosa 6-fosfat + ATP « D-fruktosa
1,6-bifosfat
4. Fruktosa
1,6-bifosfat dipecah
menjadi 2 senyawa triosa fosfat yaitu gliserahdehid
fosfatdan dihidroksi aseton fosfat.
Reaksi ini dikatalisir oleh enzim aldolase(fruktosa1,6-bifosfat
aldolase).D-fruktosa 1,6-bifosfat« D-gliseraldehid 3fosfat+dihidroksiaseton fosfat
5. Gliseraldehid
3-fosfat dapat
berubah menjadi dihidroksi aseton fosfat dan
sebaliknya
(reaksi interkonversi). Reaksi bolak-balik ini mendapatkan katalisator
enzimfosfotriosa
isomerase.
D-gliseraldehid 3-fosfat «
dihidroksiaseton fosfat
6. Glikolisis
berlangsung melalui oksidasi Gliseraldehid 3-fosfat menjadi 1,3-
bifosfogliserat, dan karena
aktivitas enzim fosfotriosa isomerase, senyawa dihidroksi
aseton fosfat juga dioksidasi menjadi
1,3-bifosfogliserat melewati gliseraldehid 3fosfat
D-gliseraldehid
3-fosfat + NAD+ + Pi« 1,3-bifosfogliserat + NADH + H+
Enzim yang bertanggung jawab terhadap oksidasi di
atas adalah gliseraldehid 3-fosfat
dehidrogenase, suatu enzim
yang bergantung kepada NAD.
Atom-atom hydrogen yang dikeluarkan dari proses
oksidasi ini dipindahkan kepada
NAD+ yang terikat pada enzim. Pada rantai respirasi
mitokondria akan dihasilkan tiga
fosfat berenergi tinggi. (+3P).
Catatan:
Karena fruktosa 1,6-bifosfat yang memiliki 6 atom
C dipecah menjadi Gliseraldehid
3-fosfat dan dihidroksi aseton fosfat yang
masing-masing memiliki 3 atom C, dengandemikian terbentuk 2 molekul gula
yang masing-masing beratom C tiga (triosa). Jikamolekul dihidroksiaseton fosfat
juga berubah menjadi 1,3-bifosfogliserat, maka dari 1molekul glukosa pada
bagian awal, sampai dengan tahap ini akan menghasilkan 2 x 3P= 6P. (+6P)
7. Energi yang
dihasilkan dalam proses oksidasi disimpan melalui pembentukan ikatan
sulfur berenergi tinggi, setelah fosforolisis,
sebuah gugus fosfat berenergi tinggi
dalam posisi 1 senyawa 1,3 bifosfogliserat.
Fosfat berenergi tinggi ini ditangkap
menjadiATP dalam reaksi lebih lanjut dengan ADP,
yang dikatalisir oleh enzim
fosfogliserat kinase. Senyawa sisa
yang dihasilkan adalah 3-fosfogliserat.
1,3-bifosfogliserat + ADP « 3-fosfogliserat + ATP
Catatan:
Karena ada dua molekul 1,3-bifosfogliserat, maka
energi yang dihasilkan adalah 2 x 1P
= 2P. (+2P)
8.3-fosfogliserat
diubah menjadi 2-fosfogliserat dengan dikatalisir oleh enzim
fosfogliserat
mutase.
Senyawa 2,3-bifosfogliserat (difosfogliserat, DPG) merupakan
intermediate
dalam reaksi ini.
3-fosfogliserat « 2-fosfogliserat
9. 2-fosfogliserat
diubah menjadi fosfoenol piruvat (PEP) dengan bantuan enzim
enolase. Reaksi
ini melibatkan dehidrasi serta pendistribusian kembali energi di
dalam molekul,
menaikkan valensi fosfat dari posisi 2 ke status berenergi tinggi.
Enolase dihambat
oleh fluoride,
suatu unsure yang dapat digunakan jika glikolisis di
dalam darah
perlu dicegah sebelum kadar glukosa darah diperiksa. Enzim ini
bergantung pada
keberadaan Mg2+ atau Mn2+.
2-fosfogliserat « fosfoenol
piruvat + H2O.
10. Fosfat berenergi tinggi PEP dipindahkan
pada ADP oleh enzim piruvat kinase
sehingga
menghasilkan ATP. Enol piruvat yang terbentuk dalam reaksi ini mengalami
konversi spontan
menjadi keto piruvat. Reaksi ini disertai kehilangan energi bebas
dalam jumlah
besar sebagai panas dan secara fisiologis adalah irreversible.
Catatan:
Karena ada 2 molekul PEP maka terbentuk 2 molekul
enol piruvat sehingga total hasil
energi pada tahap ini adalah 2 x 1P = 2P. (+2P)
11. Jika keadaan
bersifat anaerob (tak tersedia oksigen), reoksidasi NADH melalui
pemindahan sejumlah unsure ekuivalen pereduksi akan
dicegah. Piruvat akan
direduksi oleh NADH menjadi laktat. Reaksi
ini dikatalisir oleh enzim laktat
dehidrogenase.
Dalam keadaan aerob, piruvat diambil
oleh mitokondria, dan setelah konversi
menjadiasetil-KoA, akan dioksidasi menjadi CO2
melalui siklus asam sitrat (Siklus
Kreb’s). Ekuivalen pereduksi dari reaksi
NADH + H+ yang terbentuk dalam glikolisis
akan diambil oleh mitokondria untuk oksidasi melalui
salah satu dari reaksi ulang alik
(shuttle).
Oksidasi Piruvat
Dalam jalur ini,
piruvat dioksidasi (dekarboksilasi oksidatif) menjadi Asetil-KoA, yang
terjadidi dalam mitokondria sel. Reaksi ini dikatalisir oleh berbagai enzim
yang berbeda yang
bekerja secara
berurutan di dalam suatu kompleks multienzim yang berkaitan dengan
membran interna
mitokondria. Secara kolektif, enzim tersebut diberi nama kompleks
piruvat
dehidrogenase dan analog dengan kompleks µ-keto glutarat dehidrogenase
padasiklus asam sitrat.
Jalur ini
merupakan penghubung antara glikolisis dengan siklus Kreb’s. Jalur ini
juga
merupakan konversi
glukosa menjadi asam lemak dan lemak dan sebaliknya dari senyawa
non karbohidrat
menjadi karbohidrat.
Rangkaian
reaksi kimia yang terjadi dalam lintasan oksidasi piruvat adalah sebagai
berikut:
1 Dengan adanya TDP (thiamine
diphosphate), piruvat didekarboksilasi menjadi
derivatehidroksietil
tiamin difosfat terikat enzim oleh komponen kompleks enzim
piruvat
dehidrogenase. Produk sisa yang dihasilkan adalah CO2.
2.Hidroksietil
tiamin difosfat akan bertemu dengan lipoamid teroksidasi, suatu
kelompok
prostetik dihidroksilipoil transasetilase untuk membentuk asetil lipoamid,
selanjutnyaTDP
lepas.
3.
Selanjutnya dengan adanya KoA-SH, asetil lipoamid akan diubah
menjadi asetil KoA,
dengan
hasil sampingan berupa lipoamid tereduksi.
4.
Siklus ini selesai jika lipoamid
tereduksi direoksidasi oleh flavoprotein, yang
mengandung
FAD, pada kehadiran dihidrolipoil dehidrogenase. Akhirnya
flavoprotein
tereduksi ini dioksidasi oleh NAD+, yang akhirnya memindahkan
ekuivalen
pereduksi kepada rantai respirasi.
Lintasan
oksidasi piruvat

Siklus asam
sistrat

Siklus asam
sitrat sebagai jalur bersama metabolisme karbohidrat, lipid dan protein
Siklus asam
sitrat
Siklus ini juga
sering disebut sebagai siklus Kreb’s dan siklus asam trikarboksilat dan
berlangsung di
dalam mitokondria. Siklus asam sitrat merupakan jalur bersama oksidasi
karbohidrat,
lipid dan protein.
Siklus asam
sitrat merupakan rangkaian reaksi yang menyebabkan katabolisme asetil KoA,
dengan
membebaskan sejumlah ekuivalen hidrogen yang pada oksidasi menyebabkan
pelepasan dan
penangkapan sebagaian besar energi yang tersedia dari bahan baker
jaringan, dalam
bentuk ATP. Residu asetil ini berada dalam bentuk asetil-KoA (CH3-CO~KoA,
asetat aktif),
suatu ester koenzim A. Ko-A mengandung vitamin asam pantotenat.
Fungsi utama
siklus asam sitrat adalah sebagai lintasan akhir bersama untuk oksidasi
karbohidrat,
lipid dan protein. Hal ini terjadi karena glukosa, asam lemak dan banyak asam
amino
dimetabolisir menjadi asetil KoA atau intermediat yang ada dalam siklus
tersebut.
Selama proses
oksidasi asetil KoA di dalam siklus, akan terbentuk ekuivalen pereduksi
dalam bentuk
hidrogen atau elektron sebagai hasil kegiatan enzim dehidrogenase spesifik.
Unsur ekuivalen
pereduksi ini kemudian memasuki rantai respirasi tempat sejumlah besar
ATP dihasilkan
dalam proses fosforilasi oksidatif. Pada keadaan tanpa oksigen (anoksia)
atau kekurangan
oksigen (hipoksia) terjadi hambatan total pada siklus tersebut.
Enzim-enzim
siklus asam sitrat terletak di dalam matriks mitokondria, baik dalam
bentuk
bebas ataupun
melekat pada permukaan dalam membran interna mitokondria sehinggamemfasilitasi
pemindahan unsur ekuivalen pereduksi ke enzim terdekat pada rantai
respirasi, yang
bertempat di dalam membran interna mitokondria.
Selama proses
oksidasi asetil KoA di dalam siklus, akan terbentuk ekuivalen pereduksi
dalam bentuk
hidrogen atau elektron sebagai hasil kegiatan enzim dehidrogenase spesifik.
Unsur ekuivalen
pereduksi ini kemudian memasuki rantai respirasi tempat sejumlah besar
ATP dihasilkan
dalam proses fosforilasi oksidatif. Pada keadaan tanpa oksigen (anoksia)
atau kekurangan
oksigen (hipoksia) terjadi hambatan total pada siklus tersebut.
Enzim-enzim
siklus asam sitrat terletak di dalam matriks mitokondria, baik dalam
bentuk
bebas ataupun
melekat pada permukaan dalam membran interna mitokondria sehinggamemfasilitasi
pemindahan unsur ekuivalen pereduksi ke enzim terdekat pada rantai
respirasi, yang
bertempat di dalam membran interna mitokondria.
Lintasn
detail siklus kerb’s

Reaksi-reaksi pada siklus asam sitrat
diuraikan sebagai berikut:
1. Kondensasi awal asetil KoA dengan oksaloasetat
membentuk sitrat,
dikatalisir oleh enzim sitrat sintase menyebabkan sintesis ikatan karbon ke
karbon di
antara atom karbon metil pada asetil KoA dengan atom karbon karbonil
pada
oksaloasetat. Reaksi kondensasi, yang membentuk sitril KoA, diikuti oleh
hidrolisis
ikatan tioester KoA yang disertai dengan hilangnya energi bebas dalam
bentuk panas
dalam jumlah besar, memastikan reaksi tersebut selesai dengan sempurna.
Asetil KoA +
Oksaloasetat + H2O Sitrat + KoA
2. Sitrat dikonversi
menjadi isositrat oleh enzim akonitase (akonitat
hidratase) yang mengandung besi Fe2+ dalam bentuk
protein besi-sulfur (Fe:S). Konversi
ini berlangsung dalam 2 tahap, yaitu: dehidrasi
menjadi sis-akonitat, yang sebagian di
antaranya terikat pada enzim dan rehidrasi
menjadi isositrat.
Reaksi tersebut dihambat oleh fluoroasetat yang
dalam bentuk fluoroasetil KoA
mengadakan kondensasi dengan oksaloasetat untuk
membentuk fluorositrat. Senyawa
terakhir ini menghambat akonitase sehingga
menimbulkan penumpukan sitrat.

Reaksi tersebut
dihambat oleh fluoroasetat yang dalam bentuk fluoroasetil KoA
mengadakan
kondensasi dengan oksaloasetat untuk membentuk fluorositrat. Senyawa
terakhir ini
menghambat akonitase sehingga menimbulkan penumpukan sitrat.
3. Isositrat mengalami
dehidrogenasi membentuk oksalosuksinat dengan
adanya enzim isositrat dehidrogenase. Di
antara enzim ini ada yang spesifik NAD+,
hanya ditemukan di dalam mitokondria. Dua enzim
lainnya bersifat spesifik NADP+ dan
masing-masing secara berurutan dijumpai di dalam mitokondria
serta sitosol. Oksidasi
terkait rantai respirasi terhadap isositrat
berlangsung hampir sempurna melalui enzim
Isositrat + NAD+
« Oksalosuksinat « µ–ketoglutarat + CO2 + NADH + H+
Kemudian terjadi
dekarboksilasi menjadi µ–ketoglutarat yang juga dikatalisir oleh
enzim isositrat
dehidrogenase. Mn2+ atau Mg2+ merupakan komponen penting reaksi
dekarboksilasi.
Oksalosuksinat tampaknya akan tetap terikat pada enzim sebagai
intermediate
dalam keseluruhan reaksi.
4. Selanjutnya µ–ketoglutarat
mengalami dekarboksilasi oksidatif melalui
cara yang sama dengan dekarboksilasi oksidatif
piruvat, dengan kedua substrat berupa
asam µ–keto.
µ–ketoglutarat + NAD+ + KoA Suksinil KoA + CO2 + NADH + H+
Reaksi tersebut yang dikatalisir oleh kompleks µ–ketoglutarat
dehidrogenase, juga
memerlukan kofaktor yang idenstik dengan kompleks
piruvat dehidrogenase,
contohnya TDP, lipoat, NAD+, FAD serta KoA, dan
menghasilkan pembentukan suksinil
KoA (tioester berenergi tinggi). Arsenit
menghambat reaksi di atas sehingga
menyebabkan penumpukan µ–ketoglutarat.
5. Tahap selanjutnya terjadi perubahan suksinil
KoA menjadi suksinat
dengan adanya peran enzim suksinat tiokinase
(suksinil KoA sintetase).
Suksinil KoA + Pi + ADP « Suksinat + ATP + KoA
Dalam siklusasam
sitrat, reaksi ini adalah satu-satunya contoh pembentukan fosfat
berenergi tinggi pada tingkatan substrat
dan terjadi karena pelepasan energi bebas dari
dekarboksilasi oksidatif µ–ketoglutarat
cukup memadai untuk menghasilkan ikatan
7. Suksinat
dimetabolisir lebih lanjut melalui reaksi
dehidrogenasi yang diikuti oleh penambahan air dan kemudian oleh dehidrogenasi
lebih lanjut yangmenghasilkan kembali oksaloasetat.Suksinat + FAD « Fumarat +
FADH2
Reaksi dehidrogenasi
pertama dikatalisir oleh enzim suksinat dehidrogenase yang terikatpada
permukaan dalam membrane interna mitokondria, berbeda dengan enzim-enzim
lainyang ditemukan pada matriks. Reaksi ini adalah satu-satunya reaksi
dehidrogenasi dalamsiklus asam sitrat yang melibatkan pemindahan langsung atom
hydrogen dari substratkepada flavoprotein tanpa peran NAD+. Enzim ini
mengandung FAD dan protein besi-sulfur(Fe:S). Fumarat terbentuk sebagai
hasil dehidrogenasi. Fumarase (fumarat hidratase)mengkatalisir
penambahan air pada fumarat untuk menghasilkan malat.Fumarat +
H2O « L-malatEnzim fumarase juga mengkatalisir penambahan unsure-unsur air
kepada ikatan rangkapfumarat dalam konfigurasi trans.Malat dikonversikan
menjadi oksaloasetat dengan katalisator berupa enzim malatdehidrogenase,
suatu reaksi yang memerlukan NAD+.
L-Malat + NAD+ « oksaloasetat +
NADH + H+
Enzim-enzim
dalam siklus asam sitrat, kecuali alfa ketoglutaratdan suksinat dehidrogenasejuga ditemukan di
luar mitokondria. Meskipun dapat mengkatalisir reaksi serupa, sebagianenzim
tersebut, misalnya malat dehidrogenase pada kenyataannya mungkin bukanmerupakan
protein yang sama seperti enzim mitokondria yang mempunyai nama sama(dengan kata
lain enzim tersebut merupakan isoenzim).
Energi
yang dihasilkan dalam siklus asam sitrat
Pada proses
oksidasi yang dikatalisir enzim dehidrogenase, 3 molekul NADH dan 1 FADH2
akan dihasilkan
untuk setiap molekul asetil-KoA yang dikatabolisir dalam siklus asam sitrat.
Dalam hal ini
sejumlah ekuivalen pereduksi akan dipindahkan ke rantai respirasi dalam
membrane interna
mitokondria (lihat kembali gambar tentang siklus ini).
Selama melintasi
rantai respirasi tersebut, ekuivalen pereduksi NADH menghasilkan 3
ikatan fosfat
berenergi tinggi melalui esterifikasi ADP menjadi ATP dalam proses fosforilasi
oksidatif. Namun
demikian FADH2 hanya menghasilkan 2 ikatan fosfat berenergi tinggi.
Fosfat berenergi
tinggi selanjutnya akan dihasilkan pada tingkat siklus itu sendiri (pada
tingkat
substrat) pada saat suksinil KoA diubah menjadi suksinat.
Dengan demikian
rincian energi yang dihasilkan dalam siklus asam sitrat adalah:
1. Tiga molekul NADH, menghasilkan : 3 X 3P
= 9P
2. Satu molekul FADH2, menghasilkan : 1 x 2P
= 2P
3. Pada tingkat substrat = 1P
Satu siklus
Kreb’s akan menghasilkan energi 3P + 3P + 1P + 2P + 3P = 12P.
Lintasan Glikogenesis dan glikogenolisis

Glikogenesis
Tahap pertama metabolisme karbohidrat
adalah pemecahan glukosa (glikolisis) menjadi
piruvat.
Selanjutnya piruvat dioksidasi menjadi asetil KoA. Akhirnya asetil KoA masuk ke
dalam rangkaian
siklus asam sitrat untuk dikatabolisir menjadi energi.
Proses di atas
terjadi jika kita membutuhkan energi untuk aktifitas, misalnya berpikir,
mencerna
makanan, bekerja dan sebagainya. Jika kita memiliki glukosa melampaui
kebutuhan
energi, maka kelebihan glukosa yang ada akan disimpan dalam bentuk glikogen.
Proses
anabolisme ini dinamakan glikogenesis.
Glikogen
merupakan bentuk simpanan karbohidrat yang utama di dalam tubuh dan analog
dengan amilum
pada tumbuhan. Unsur ini terutama terdapat didalam hati (sampai 6%),
otot jarang
melampaui jumlah 1%. Akan tetapi karena massa otot jauh lebih besar daripada
hati, maka
besarnya simpanan glikogen di otot bisa mencapai tiga sampai empat kali lebih
banyak. Seperti
amilum, glikogen merupakan polimer µ-D-Glukosa yang bercabang.
Glikogen otot
berfungsi sebagai sumber heksosa yang tersedia dengan mudah untuk proses
glikolisis di
dalam otot itu sendiri. Sedangkan glikogen hati sangat berhubungan dengan
simpanan dan
pengiriman heksosa keluar untuk mempertahankan kadar glukosa darah,
khususnya pada
saat di antara waktu makan. Setelah 12-18 jam puasa, hampir semua
simpanan
glikogen hati terkuras habis. Tetapi glikogen otot hanya terkuras secara
bermakna setelah
seseorang melakukan olahraga yang berat dan lama.
Rangkaian proses
terjadinya glikogenesis digambarkan sebagai berikut:
1. Glukosa mengalami fosforilasi menjadi
glukosa 6-fosfat (reaksi yang lazim terjadi juga
pada lintasan glikolisis). Di otot reaksi ini
dikatalisir oleh heksokinase sedangkan di hati
oleh glukokinase.
2. Glukosa 6-fosfat diubah menjadi glukosa
1-fosfat dalam reaksi dengan bantuan
katalisator enzim fosfoglukomutase. Enzim itu
sendiri akan mengalami fosforilasi dan
gugus fosfo akan mengambil bagian di dalam reaksi
reversible yang intermediatnya
adalah glukosa 1,6-bifosfat.
Enz-P + Glukosa 6-fosfat «Enz + Glukosa 1,6-bifosfat
« Enz-P + Glukosa 1-fosfat
3. Selanjutnya glukosa 1-fosfat bereaksi
dengan uridin trifosfat (UTP) untuk membentuk
uridin difosfat glukosa (UDPGlc). Reaksi
ini dikatalisir oleh enzim UDPGlc
pirofosforilase.
4. Hidrolisis pirofosfat inorganic
berikutnya oleh enzim pirofosfatase inorganik akan
menarik reaksi kea rah kanan persamaan reaksi
5. Atom C1 pada
glukosa yang
diaktifkan oleh UDPGlc membentuk ikatan glikosidik
dengan atom C4 pada
residu glukosa terminal glikogen, sehingga membebaskan uridin difosfat.
Reaksi ini dikatalisir oleh enzim glikogen sintase. Molekul glikogen
yang sudahada sebelumnya (disebut glikogen primer) harus ada untuk
memulai reaksi ini.
Glikogen primer selanjutnya dapat terbentuk pada
primer protein yang dikenal sebagai
glikogenin.
Glikogen Glikogen
Residu glukosa yang lebih lanjut melekat pada posisi
14 untuk
membentuk rantai
pendek yang diaktifkan oleh glikogen sintase. Pada
otot rangka glikogenin tetap
melekat pada pusat molekul glikogen, sedangkan di
hati terdapat jumlah molekul
glikogen yang melebihi jumlah molekul glikogenin.
6. Setelah rantai
dari glikogen primer diperpanjang dengan penambahan glukosa tersebut
hingga mencapai minimal 11 residu glukosa, maka enzim
pembentuk cabang
pada molekul tersebut. Cabang-cabang ini akan tumbuh
dengan penambahan lebih
terminal yang non reduktif bertambah, jumlah total
tapak reaktif dalam molekul akan
meningkat sehingga
akan mempercepat glikogenesis maupun glikogenolisis.
Tahap-tahap perangkaian glukosa demi
glukosa digambarkan pada bagan berikut.
Biosintesis
Biosintesis
glikogen (dipetik dari: Murray dkk. Biokimia Harper)
Tampak bahwa setiap penambahan 1 glukosa pada glikogen dikatalisir oleh enzim glikogen
sintase. Sekelompok glukosa dalam rangkaian
linier dapat putus dari glikogen induknya dan berpindah tempat untuk membentuk cabang. Enzim yang berperan dalam tahap ini adalah enzim pembentuk cabang (branching enzyme).
Glikogenolisis
Jika glukosa dari diet tidak dapat
mencukupi kebutuhan, maka glikogen harus dipecah
untuk mendapatkan glukosa sebagai sumber
energi. Proses ini dinamakan glikogenolisis.
Glikogenolisis seakan-akan kebalikan dari
glikogenesis, akan tetapi sebenarnya tidak
demikian. Untuk memutuskan
ikatan glukosa satu demi
satu dari glikogen diperlukan
enzim fosforilase. Enzim ini spesifik untuk proses
fosforolisis rangkaian 14 glikogen untuk
menghasilkan glukosa
1-fosfat. Residu
glukosil terminal pada rantai paling luar molekul
glikogen dibuang secara berurutan sampai
kurang lebih ada 4 buah residu glukosa yang
tersisa pada tiap sisi cabang 16.
(C6)n + Pi (C6)n-1 + Glukosa 1-fosfat
Glikogen Glikogen
Glukan
transferase dibutuhkan
sebagai katalisator pemindahan unit trisakarida dari satu
cabang ke
cabang lainnya sehingga
membuat titik cabang 16 terpajan. Hidrolisis
ikatan
16 memerlukan
kerja enzim enzim pemutus cabang (debranching
enzyme) yang
spesifik.
Dengan pemutusan cabang tersebut, maka
kerja enzim fosforilase selanjutnya dapat
berlangsung.
Tahap-tahap
glikogenolisis
Glukoneogenesis

Glukoneogenesis terjadi jika sumber
energi dari karbohidrat tidak tersedia lagi. Maka tubuhadalah menggunakan lemak
sebagai sumber energi. Jika lemak juga tak tersedia, barulahmemecah protein
untuk energi yang sesungguhnya protein berperan pokok sebagai
pembangun tubuh.
Jadi bisa disimpulkan bahwa glukoneogenesis adalah proses pembentukan glukosa
darisenyawa-senyawa non karbohidrat, bisa dari lipid maupun protein.
Secara ringkas, jalur glukoneogenesis
dari bahan lipid maupun protein dijelaskan sebagai
berikut:
1. Lipid
terpecah menjadi komponen penyusunnya yaitu asam lemak dan
gliserol. Asam lemak dapat dioksidasi
menjadi asetil KoA. Selanjutnya asetil KoA masuk
dalam siklus Kreb’s. Sementara itu
gliserol masuk dalam jalur glikolisis.
2. Untuk protein, asam-asam amino
penyusunnya akan masuk ke dalam siklus
Kreb’s.
28 Ilmuwan
Ringkasan
jalur glukoneogenesisi

Lintasan metabolisme karbohidrat, lipid
dan protein. Perhatikan jalur glukoneogenesis yaitu masuknya lipid
dan asam amino ke dalam lintasan

Setelah mengalami pelepasan gugus amin, asam-asam amino
dapat memasuki siklus asam sitrat melalui jalur yang beraneka ragam.

Tempat-tempat
masuknya asam amino ke dalam sikulus asam sitrat untuk produksi energi
Gugus-gugus amin dilepaskan menjadi ion amonium (NH4+)
yang selanjutnya masuk ke dalam siklus urea di hati. Dalam siklus ini
dihasilkan urea yang selanjutnya dibuang melalui ginjal berupa urin. Proses
yang terjadi di dalam siklus urea digambarkan terdiri atas beberapa tahap
yaitu:
1.
Dengan peran enzim karbamoil fosfat sintase I, ion amonium
bereaksi dengan CO2 menghasilkan karbamoil fosfat. Dalam raksi ini
diperlukan energi dari ATP
2.
Dengan peran enzim ornitin transkarbamoilase, karbamoil fosfat
bereaksi dengan L-ornitin menghasilkan L-sitrulin dan gugus fosfat dilepaskan
3.
Dengan peran enzim argininosuksinat sintase, L-sitrulin bereaksi
dengan L-aspartat menghasilkan L-argininosuksinat. Reaksi ini membutuhkan
energi dari ATP
4.
Dengan peran enzim argininosuksinat liase, L-argininosuksinat
dipecah menjadi fumarat dan L-arginin
5.
Dengan peran enzim arginase, penambahan H2O terhadap L-arginin
akan menghasilkan L-ornitin dan urea.

Tahapan-tahapan proses
yang terjadi di dalam siklus urea
Proses oksidasi asam
lemak dinamakan oksidasi beta dan menghasilkan asetil KoA. Selanjutnya
sebagaimana asetil KoA dari hasil metabolisme karbohidrat dan protein, asetil
KoA dari jalur inipun akan masuk ke dalam siklus asam sitrat sehingga
dihasilkan energi. Di sisi lain, jika kebutuhan energi sudah mencukupi, asetil
KoA dapat mengalami lipogenesis menjadi asam lemak dan selanjutnya dapat
disimpan sebagai trigliserida.
Beberapa lipid non
gliserida disintesis dari asetil KoA. Asetil KoA mengalami kolesterogenesis
menjadi kolesterol. Selanjutnya kolesterol mengalami steroidogenesis membentuk
steroid. Asetil KoA sebagai hasil oksidasi asam lemak juga berpotensi
menghasilkan badan-badan keton (aseto asetat, hidroksi butirat dan aseton).
Proses ini dinamakan ketogenesis. Badan-badan keton dapat menyebabkan gangguan
keseimbangan asam-basa yang dinamakan asidosis metabolik. Keadaan ini dapat
menyebabkan kematian.

khtisar metabolisme lipid
Metabolisme gliserol
Gliserol sebagai
hasil hidrolisis lipid (trigliserida) dapat menjadi sumber energi. Gliserol ini
selanjutnya masuk ke dalam jalur metabolisme karbohidrat yaitu glikolisis. Pada
tahap awal, gliserol mendapatkan 1 gugus fosfat dari ATP membentuk gliserol
3-fosfat. Selanjutnya senyawa ini masuk ke dalam rantai respirasi membentuk
dihidroksi aseton fosfat, suatu produk antara dalam jalur glikolisis.

Reaksi-reaksi kimia dalam metabolisme
gliserol
Komentar
Posting Komentar